Syeikh Abdul Aziz Bin Baz
Rahimahullah.
PARASIT AQIDAH
القوادح في العقيدة ووسائل السلامة منها
Tahqiq:
Syeikh Khalid bin Abdurrohman Asy Syaayi’
Alih Bahasa:
ِAbul Qossam
(Mahasiswa program pasca sarjana Omdurman Islamic University of Sudan)
KATA PENGANTAR
الحمد لله معز التوحيد بنصره، ومذل الشرك بقهره ومصرف الأحوال بأمره، الذي أظهر دينه على الدين كله، أحمده على إعزازه لأوليائه وخفضه لأعدائه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، شهادة من طهر بالإخلاص قلبه، وأرضى بالمعاداة فيه والموالاة ربه.
وأشهد أن محمد عبده ورسوله، رافع الشك، وخافض الشرك، ومانع الكذب والإفك، اللهم صلّّ على محمد النبي الكريم، والرسول الصادق الأمين، وعلى آله وصحبه وسلّم تسليماً.أما بعد:
Kesehatan aqidah adalah masalah terpenting yang harus mendapatkan perhatian dari seorang mukallaf, dia adalah perkara terpenting dari segala sesuatu, bahkan lebih penting dari kesahatan, makanan, minuman dan oksigen yang dihirupnya. Karena kehilangan salah satu dari unsur-unsur itu atau bahkan seluruhnya dari seseorang dampak negatif maksimal yang akan dialaminya adalah ia akan meninggalkan dunia ini, akan tetapi jikalau seseorang kehilanggan aqidah yang benar, maka yang rusak bukan hanya sekedar kehidupan dunianya saja akan tetapi dapat berdampak dalam kehidupan akhiratnya yang jauh lebih penting dari kehidupan dunia, satu kerugian yang tidak akan pernah beruntung setelahnya.
Karena urgennya masalah ini, maka bagi siapa saja yang menginginkan kebahagiaan dirinya dan keselamatan di dunia dan akhirat handaklah ia bersungguh-sungguh dalam mendapatkan dan merealisasikan aqidah yang benar, dan hendaklah ia sangat berwaspada dari segala sesuatu yang dapat merusak aqidahnya atau menguranginya atau melemahkannya.
Akhi Muslim, Anda jangan mengatakan bahwa perkara ini telah diketahui oleh semua orang, semua manusia mengetahuinya. Ilmu dan pengetahuan, tentu merupakan masalah yang penting dan tidak ada keraguan di dalam masalah ini, akan tetapi hal itu harus berada di atas ilmu dan kejelasan sehingga kita berjalan di atas rel yang telah dilalui oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallaahu anhum.
Senada dengan perkara tersebut, kitapun harus mengetahui dan berwaspada dari hal-hal yang dapat merusak aqidah, baik yang dapat membatalkannya atau menguranginya baik itu kemusyrikan, dan kebid’ahan maupun dosa-dosa besar lainnya.
Perhatikan dan renungkanlah do’a Nabi Ibrohim ‘alaihis salam sebagaimana telah disebutkan di dalam Al Qur’an:
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأَصْنَامَ(35)رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ
“Dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari peribadatan kepada berhala, Wahai Robbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak dari kalangan manusia.”
Inilah do’a dari kekasih Allah Azza wa Jalla, bapak para nabi, imam para hunafa’, ia mengucapkannya karena rasa takutnya dari kemusyrikan, disamping karena kekhawatirannya atas diri dan keturunannya yang di antara merekapun adalah para pembesar dari kalangan orang-orang yang hanif, dan orang-orang pilihan Allah, hal itu disebabkan karena kebanyakan manusia banyak yang terperosok ke dalamnya.
Lalu bagaimana pandangan anda dengan selain Nabi Ibrahim ‘alaihis salam?!!
Ibrahim At Taemi rahimahullah berkata: “Siapakah yang lebih merasa aman daripada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.”
Ini menuntut setiap hati yang hidup untuk senantiasa khawatir dari kemusyrikan, tidak seperti apa yang dikatakan oleh orang-orang bodoh: kemusyrikan tidak terjadi pada umat ini, sehingga mereka merasa aman dari kemusyrikan dan merekapun terperosok ke dalamnya.
Atau sebagaimana dianggap oleh sebagian besar manusia saat ini, bahwa sekarang zaman modern dan kemajuan teknologi serta pengetahuan, maka tidak mungkin ada kemusyrikan di dalamnya, kemudian merekapun beranggapan bahwa jikalau ada orang yang terjerumus ke dalam kemusyrikan, hal itu bukanlah merupakan masalah yang serius, selama ia berpandangan modern dan maju. Maka mereka itu adalah orang-orang yang lalai atau pura-pura lalai sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Mereka mengetahui sesuatu yang nampak dari kehidupan dunia, sedangkan dari (kehidupan) akhirat mereka lalai.”
Mereka lalai bahwa keadaan dan akibatnya yang akan terjadi adalah sebagaimana sunnatullah bagi orang-orang sebelum mereka, Allah Azza wa Jalla berfirman:
فَرِحُوا بِمَا عِنْدَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ
“Mereka bergembira dengan ilmu yang mereka miliki dan mereka dikepung oleh adzab Allah yang selalu diperolok-olokan itu.”
Dan dampaknya adalah, sebagaian kelompok manusia saat ini telah beribadah kepada tuhan-tuhan lain yang telah diharamkan oleh Robb mereka, kemudian mereka menghalalkannya dan berpandangan positif kepadanya, bahkan mereka menuhankan hawa nafsu mereka sendiri:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلا تَذَكَّرُونَ
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya, dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ?.”
Perhatikanlah, bagaimana Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dengan rasa kasih sayangnya kepada umatnya, beliau mengingatkan mereka dari syirik ashghar, dan terlebih dari syirik akbar, beliau bersabda:
أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ
“Yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.”
Dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallampun telah menutup seluruh pintu-pintu bid’ah, sehingga beliau bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa yang mengada-adakan dalam urusan kami yang bukan dari ajarannya maka amalannya tertolak.”
Maksudnya; tertolak dari pelakunya.
Allah Azza wa Jalla telah memberikan taufiq kepada para ulama sunnah sepanjang lintasan sejarah untuk menampakkan aqidah yang benar sehingga tetap segar sebagaimana telah dibawa oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, dan mereka telah menerangkan hal-hal yang dapat membatalkannya dan sebab-sebab yang dapat menguranginya, sehingga sebagaian besar dari mereka telah menulis di dalam karyanya sebuah pembahasan yang dinamakan dengan Bab Hukum Murtad, dan bahkan sebagian mereka menulis satu karya tersendiri khusus dalam masalah ini sebagaimana telah dilakukan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
Ini semua menunjukkan betapa pentingnya permasalahan ini, karena betapa banyak orang yang menisbatkan dirinya kepada Islam namun mereka telah keluar darinya disebabkan karena pembatal-pembatal tersebut.
Dalam masalah ini Ibnu Taemiyyah rahimahullah berkata: “Kalau seandainya di zaman Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam ada sekelompok orang yang menisbahkan dirinya ke dalam Islam, kemudian mereka keluar darinya padahal mereka adalah orang-orang yang rajin di dalam beribadah, maka dapat diketahui dengan jelas, bahwa orang yang menisbahkan dirinya ke dalam Islam dan sunnah terkadang ia dapat keluar dari Islam karena beberapa sebab…”
Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata -setelah menyebutkan beberapa pembatal-pembatal keislaman-: “Dan semuanya sangat berbahaya, dan yang paling sering terjadi, oleh sebab itu seyogyanya bagi seorang muslim untuk mewaspadainya dan merasa khawatir atas dirinya.”
Karena pentingnya masalah inilah, dengan taufiq dan seidzin Allah Azza wa Jalla, Dia telah menjadikan saya sebagai sebab tersebarnya risalah yang sangat berharga ini yang telah disampaikan oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah yang telah lama dikenal berda’wah dan berjuang di atas manhaj yang jelas, sehingga hal itu dapat disaksikan oleh orang dekat dan jauh, tua dan muda, dan cukuplah Allah sebagai saksi.
Risalah singkat ini memaparkan tentang permasalahan-permasalah yang wajib diketahui oleh seorang muslim agar terhindar dari benalu-benalu aqidah, dan sebab-sebab yang dapat mengurangi atau melemahkannya.
Semoga Allah Azza wa Jalla membalas kebaikan Syekh Abdul Aziz bin Baz dengan pahala yang baik, memberkahi usianya dengan penuh kebaikan, dan saya ucapkan terima kasih kepada setiap orang yang berpartisipasi dalam penulisan risalah ini, semoga Allah Azza wa Jalla membalas kebaikan mereka semua, dan semoga Dia memberikan taufiq-Nya kepada kita sekalian untuk memahami agama ini, dan menjauhkan kita dari segala sebab murka dan adzab-Nya, dan menjadikan amalan dan perkataan kita ikhlas di sisi-Nya. Amin.
Semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada sebaik-baik makhluk, nabi kita Muhammad, kepada karib kerabatnya, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya.
Ditulis oleh:
Orang yang fakir terhadap Rabbnya
Khalid bin Abdurrohman Asy Syaayi’
Semoga Allah mengampuninya, bagi kedua orang tuanya dan bagi kaum muslimin
PARASIT AQIDAH
الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين والصلاة والسلام الأتمان الأكملان على عبده وررسوله وخليله وأمينه على وحيه، نبينا وإمامنا وسيدنا محمد بن عبد الله وعلى آله وأصحابه ومن سلك سبيله واهتدى بهداه إلى يوم الدين، أما بعد:
Tidak diragukan lagi, bahwa kesehatan aqidah adalah merupakan masalah terpenting dan kewajiban terbesar yang harus mendapatkan perhatian seorang muslim, adapun kewajiban-kewajiban yang lain datang setelah itu.
Oleh sebab itu, judul pembahasan kita pada malam hari ini adalah:
“Parasit-parasit Aqidah Dan Sarana Untuk menghindarinya.”
Aqidah adalah: Apa-apa yang diyakini oleh manusia dan dianutnya, baik kebajikan ataupun kejahatan, baik kejelekan ataupun kebaikan.
Aqidah yang kita maksud adalah Aqidah Yang Benar, dan apa yang diwajibkan bagi seorang hamba Allah, karena di dunia ini banyak sekali keyakinan, dan semuanya rusak kecuali aqidah yang bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, yaitu Aqidah Islamiyyah yang jernih dan bersih dari unsur-unsur kemusyrikan dan kebid’ahan serta kemaksiatan, aqidah inilah yang sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, dan itulah Islam.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإِسْلامُ
“Sesungguhnya agama (yang benar) di sisi Allah adalah Islam.”
Dan firman-Nya:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan telah Aku sempurnakan ni’mat-Ku atas kalian, dan Aku telah rela Islam sebagai agama kalian.”[12]
Maka, Islam adalah agama Allah, dan Dia tidak akan menerima selain daripadanya. Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barang siapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima darinya, dan ia di akhirat termasuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi.”
Islam adalah agama seluruh para nabi, Agama bapak kita Adam ‘alaihis salam, agama para nabi setelahnya: Nuh, Ibrohim, Musa, Isa, Daud, Sulaiman, Ishaq, Ya’qub, Yusuf dan Agama para nabi dan rosul yang lain ‘alaihimus salam, dan dialah agama nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam yang telah diutus kepada seluruh manusia. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
اْلأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلاَّت أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِيْنُهُمْ وَاحِدٌ
“Para nabi itu bersaudara sebapak, ibu mereka berbeda-beda dan agama mereka satu.”
Dan di dalam lafadz yang lain:
أَوْلاَدٌ عَلاَّت
“Anak-anak saudara sebapak”
Maksudnya adalah: Agama para nabi adalah satu, yaitu Tauhidullah (mentauhidkan Allah) dan beriman bahwa Dia adalah Robb seru sekalian alam, Maha Pencipta dan Maha mengetahui, beriman kepada akhirat dan hari kebangkitan, surga, neraka dan timbangan amal serta hal-hal lain yang termasuk ke dalam urusan akhirat. Adapun syariat-syariat mereka, maka berbeda-beda, dan inilah makna dari “anak sebapak dari ibu yang berbeda-beda” ini adalah merupakan kiasan bagi syari’at yang berbeda-beda. Sebagaimana Allah Azza wa Jalla telah berfirman:
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu Kami berikan aturan dan jalan yang terang.”
Saudara sebapak, bapak mereka satu dan ibu mereka berbeda-beda. Demikianlah para nabi, agama mereka satu yaitu Tauhidullah dan memurnikan ibadah kepada-Nya.
Dan arti “Laa Ilaaha Illallaah.” Adalah: Mengesakan Allah di dalam ibadah, dan beriman kepada Allah Azza wa Jalla, kepada para malaikat-Nya, kepada kitab-kitab suci-Nya, kepada para utusan-Nya, kepada hari akhir, dan kepada qadha dan qodar baik dan buruknya, dan kepada segala sesuatu yang berkaitan dengannya, seperti: beriman kepada hari kebangkitan, surga, neraka, timbangan amal, hari perhitungan, jembatan shirath dan lain-lain.
Demikianlah agama para nabi, masing-masing dari mereka ‘alaihimus salam membawa misi ini, akan tetapi syariat mereka berbeda-beda seperti anak-anak dari ibu yang berbeda-beda. Maka syari’at yang ada di dalam Taurat berbeda dengan apa yang ada di dalam injil, dan di dalam syari’at-syari’at sebelum kita ada hal-hal yang tidak kita dapatkan di syari’at Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, demikian juga dengan apa yang ada di dalam taurat dan Injil. Allah Azza wa Jalla telah memberikan berbagai kemudahan bagi umat ini, sebagaimana firman-Nya
وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأَغْلالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ
“Dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.”
Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
بُعِثْتُ بِالْحَنَفِيَّةِ السَّمْحَةِ
“Aku telah diutus dengan (agama) yang lurus dan mudah.”
Allah Azza wa Jalla telah mengutusnya dengan syari’at yang penuh dengan kemudahan yang tidak berbeban, tidak berbelenggu, dan tidak susah untuk diterapkan, sebagaimana Allah Azza wa Jalla telah berfirman:
وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.”
Sebagai contoh, para pengikut syari’at-syari’at terdahulu sebelum syari’at Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, apabila mereka tidak mendapatkan air, mereka tidak bertayammum, akan tetapi mereka mengakhirkan shalat semuanya kemudian mereka menjama’nya sehingga mereka mendapatkan air, barulah mereka berwudhu dan mendirikan shalat. Kemudian Allah Azza wa Jalla mensyari’atkan tayammum pada umat ini, maka barang siapa yang tidak menemukan air atau tidak mampu untuk bersuci dengan air, ia dapat melakukannya dengan bertayammum dengan tanah kemudian ia mendirikan shalat. Dan contoh-contoh yang lain banyak kita temukan sebagai bentuk kemudahan dan keringanan.
Demikian pula, Setiap nabi diutus hanya kepada kaum tertentu, sedangkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam diutus kepada seluruh manusia, kepada kalangan jin dan manusia, bangsa arab dan ‘ajam, dan beliau dijadikan nabi penutup.
Orang-orang sebelum kita mereka tidak boleh shalat kecuali di tempat-tempat peribadatan mereka, adapun di dalam syari’at Muhammad, di belahan bumi mana saja jika waktu shalat telah tiba, anda boleh mengerjakannya di mana anda berada, baik di tengah padang pasir ataupun di tengah pedesaan, sebagaimana sabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam:
جُعِلَتْ لِيَ اْلأَرْضُ مَسْجِداً وَطَهُوْراً
“Bumi telah dijadikan bagiku sebagai tempat beribadah dan alat untuk bersuci.”
Maka syari’at yang dibawa oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah syari’at yang luas dan mudah, tidak mengandung beban dan tidak membelenggu, di antara contohnya adalah orang sakit, ia tidak diharuskan untuk shaum, akan tetapi ia diperbolehkan untuk berbuka dan ia mengqodhanya, Orang yang sedang melakukan perjalanan mengqashar shalat, ia boleh berbuka pada bulan ramadhan dan mengqadhanya. Sebagamana firman Allah Azza wa Jalla:
وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“Dan barang siapa yang sakit atau ada dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu.”
Orang yang mendirikan shalat, apabila ia tidak mampu untuk berdiri, ia boleh melakukannya dalam keadaan duduk, apabila ia tidak mampu duduk, ia boleh melakukannya di atas sisi tubuhnya, dan apabila ia tidak mampu, maka shalat dalam keadaan terbaring, sebagaimana hal itu disebutkan dalam hadits yang shahih dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Apabila ada seseorang yang tidak mendapatkan makanan yang halal untuk mengganjal rasa laparnya, ia diperbolehkan untuk memakan bangkai dan semisalnya yang dapat menahan laparnya agar ia tidak meninggal.
Maka aqidah Islamiyyah adalah Tauhidullah dan memurnikan ibadah kepada Allah Azza wa Jalla, beriman kepada-Nya, kepada para utusan-Nya, kitab-kitab suci-Nya, kepada para malaikat-Nya dan kepada hari akhir, baik kepada hari kebangkitan, surga dan neraka, dan perkara-perkara lain yang berkaitan dengan kehidupan akhirat, serta beriman kepada qadha dan qadar baik dan buruknya, bahwa Allah Azza wa Jalla telah menentukan segala sesuatu, mengetahuinya, meliputinya dan semuanya tertulis di sisi-Nya.
Dan di antara rukun Islam adalah: shalat, zakat, shaum dan haji.
Dan di antara kewajiban-kewajibannya adalah: Berjihad di jalan Allah, amar ma’ruf dan nahi munkar, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali persaudaraan, jujur di dalam berbicara, menjaga amanah dan lain-lain.
Maka, Al Islam adalah: Menyerahkan diri kepada Allah, tunduk dan patuh kepada-Nya dengan mentauhidkan-Nya dan memurnikan ibadah kepada-Nya, berpegang teguh dengan mentaati-Nya dan mentaati rosul-Nya ‘alaihis shalatu was salaam. Oleh sebab itulah dinamakan Islam, karena seorang muslim menyerahkan urusannya kepada Allah Azza wa Jalla, mentauhidkan-Nya dan beribadah kepada-Nya semata, patuh terhadap perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, serta tidak melampaui batas yang telah ditetapkan-Nya. Dan inilah Islam.
Islam memiliki lima rukun: bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, shaum ramadhan dan haji ke Baitullah bagi orang yang mampu.
Dua kalimat syahadat ma’nanya: mentauhidkan Allah dan memurnikan ibadah kepada-Nya, dan beriman bahwa Muhammad adalah utusan-Nya. Kedua kalimat syahadat ini adalah merupakan pondasi agama ini, oleh sebab itu tidak ada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah semata, dan inilah arti dari “Laa Ilaaha illallaah”, sebagaimana Allah Azza wa Jalla telah berfirman:
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ
“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Ilah) yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang bathil.”