ALATIEQ-Komunitas Mahasiswa Sunni Sudan

مقالات متنوعة (kumpulan makalah dan tulisan)

 Bismillahirrahmanirrahim

Bulan Rajab merupakan salah satu diantara ‘Asyhur Haram, (bulan Haram). Sebagian Ulama memandang sebab penamaan tersebut adalah karena kemuliaan bulan-bulan tersebut dan besarnya pahala atau dosa bagi yang melakukan kebaikan atau kemungkaran padanya.

Namun demikian tidak ada dalil yang shahih menunjukkan disyariatkan mengkhususkan bulan Rajab dengan ibadah-ibadah tertentu baik itu shalat, puasa, sedekah, shalawat dan lain-lain. Hal ini telah dijelaskan oleh para ulama kita diantaranya Imam Ibnu Rajab dalam kitab beliau “ Lathoif Al Maarif” Kalau kita memperhatikan keadaan ummat di zaman ini maka kita dapatkan banyak sekali model ibadah dan kegiatan yang dilaksanakan dalam bulan Rajab ini, salah satu diantaranya adalah perayaan atau peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad . Bagaimana sebenarnya hukum mengadakan kegiatan-kegiatan tersebut? Berikut ini kami kutipkan fatwa dari seorang ulama kita diabad ini yaitu Samahatus Syaikh Abd. Aziz bin Abd Bin Bazz –rahimahullahu-.

Segala Puji bagi Allah Azza wa Jalla?dan Shalawat serta salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga beliau dan para sahabatnya. Amma Ba’du.

Tidak diragukan lagi bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah yang agung sebagai bukti kebenaran Rasulul-Nya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ?dan agungnya kedudukan beliau disisi Allah Azza wa Jalla. Disamping itu peristiwa ini merupakan salah satu tanda qudrah Allah yang begitu besar dan ketinggian Allah atas sekalian makhluk-Nya.
Allah berfirman :

سبْحانَ الَّذِى أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ اْلأَقْصَا الَّذِى باَرَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَتِنَا إِنَّهُ,هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

"Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram kemasjidil Aqsa yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pendengar lagi Maha Melihat” (QS. Al Isra’:1)

Dan telah diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa beliau dinaikkan kelangit dan dibukakan bagi beliau pintu-pintunya hingga melewati langit yang ketujuh, lalu Allah Azza wa Jalla mengajaknya berbicara sesuai dengan yang Dia kehendaki. Lalu Allah mewajibkan kepadanya shalat 5X sehari semalam yang pada mulanya Allah mewajibkan 50X lkemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam senantiasa kembali untuk meminta keringanan hingga Allah menjadikannya 5 X namum pahalanya tetap 50 karena satu kebaikan diganjar dengan 10 X lipat. Maka segala puji dan syukur bagi Allah atas segala nikmat-Nya.

Tidak ada hadits-hadits yang shahih yang menentukan kapan sebenarnya terjadi malam Isra’ dan Mi’raj apakah dia dibulan Rajab atau selainnya. Dan setiap hadits yang menentukan waktu terjadinya malam tersebut adalah hadits lemah menurut para ulama hadits. Dan dilupakannya manusia akan waktu terjadinya merupakan hikmah besar yang dikehendaki oleh Allah Azza wa Jalla. Bahkan sekiranya ada dalil yang shahih yang menentukan kapan terjadinya Isra’ Mi’raj maka tidak boleh bagi kaum muslimin mengkhususkannya dengan ibadah-ibadah tertentu dan tidak boleh pula merakannya karena Nabi dan para sahabatnya tidak pernah merayakannya dan tidak pula mengkhususkan malam tersebut dengan sesuatu kegiatan.

Seandainya perayaan tersebut disyariatkan tentu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menjelaskannya kepada ummatnya, baik dengan perkataan ataupun dengan perbuatan dan seandainya hal itu pernah dilakukan tentu para shahabat akan menukilkan kepada kita karena mereka telah menukil dari Nabi mereka segala sesuatu yang dibutuhkan oleh ummat ini dan mereka tidak pernah lalai menyampaikan sesuatu yang berhubungan dengan Ad Dien bahkan mereka orang-orang yang bersegara kepada setiap kebaikan, maka seandainya memperingati malam tersebut disyariatkan tentu mereka orang yang paling pertama melakukannya. Hudzaifah berkata
“Setiap ibadah yang tidak dilakukan oleh para sahabat Rasulullah maka jangan kamu beribadah dengannya”
Said bin Jubair juga telah mengatakan :
“Apa yang tidak dikenal oleh ahli Badar bukanlah bagian dari Ad Dien”

Dan Nabi juga orang yang paling banyak bernasehat kepada manusia dan menyampaikan seluruh risalah ini serta telah menunaikan amanah. Maka seandainya mengagungkan dan merayakan malam tersebut merupakan bagian dari Ad dien tentu Nabi telah menyampaikannya dan tidak akan menyembunyikannya. Karena ketika hal itu tidak beliau sampaikan maka diketahuilah bahwa merayakannya dan mengagungkannya bukanlah bagian dari Islam sedikitpun dan Allah Azza wa Jalla telah menyempurnakan bagi ummat ini dien mereka serta mencukupkan nikmat-Nya atas mereka dan Dia mengingkari siapa saja yang membuat syariat yang tidak diizinkan-Nya.

Allah Azza wa Jalla berfirman di kitab-Nya yang nyata di surah Al Maidah ayat 3 :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْنًا . المائدة : 3

“Pada hari ini telah Kusempurnakan agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamuni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhaiislam itu jadi agama bagimu”

Dan di surah As Syuuro:21 :

أمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوْالَهُمْ مِّنَ الِّدِيْنِ مَالَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللهُ وَلَوْ لاَ كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِىَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِيْنَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ . الشورى : 21

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkanuntuk mereka agama yang tidak di idzinkan Allah ? sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang dzolim itu akan memperoleh adzab yang pedih”.

Dan dalam hadits-hadist yang shahih Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam banyak memperingatkan akan bahaya bid’ah dan beliau menegaskan bahwa bid’ah itu sesat sebagai peringatan terhadap ummat akan besarnya bahaya bid’ah agar mereka menjauhinya.
Diantara hadis-hadist tersebut apa yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Aisyah dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam beliau bersabda :
Dan pada riwayat Muslim :<

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. رواه البخارى و مسلم


“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak kami perintahkan maka amalan itu tertolak”

Dalam Shahih Muslim dari Jabir berkata : Bahwasanya Rasulullah mengatakan pada khutbah jum’at beliau :

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ . رواه مسلم

“Adapun sesudah itu (amma ba’du ) mak sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, sejelek-jelek urusan adalah perkara-perkara yang baru dan setiap bid’ah adalah sesat”.

Imam Nasaai manambahkan dengan sanad yang baik :

وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ. رواه النسائ

“Dan setiap kesesatan tempatnya dineraka”.

Dan diriwayatkan oleh habus Sunan dari Al Irbadh Bin Sariyah bahwasanya Rasulullah menasehati mereka dengan nasehat yang sangat besar hingga membuat hati-hati mereka bergetar dan mata-mata mereka mencucurkan air mata. Maka kami berkata : Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat dari orang yang hendak pergi meninggalkan kami maka wasiatkanlah kami , Beliau bersabda :

“Aku berwasiat kepada kalian untuk bertaqwa keapada Allah mendengar dan ta’at walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak karena sesungguhnya siapa diantara kalian yang hidup sesudahku maka dia akan melihat ikhtilaf (perselisihan) yang banyak, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah para khulafa Rasyidin yang diberi petunjuk sesudahku, komitmenlah padanya, gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian dan jauhilah perkara-perkara yang baru karena sesungguhnya setiap yang baru adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah sesat”.

Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang semakna dengan hadist ini. Demikian pula para sahabat Rasulullah serta ulama salaf sesudah mereka senantiasa memeperingatkan dan mengancam akan bahaya bid’ah diantaranya apa yang dikatakan sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud “ikutilah (sunnah) dan janganlah berbuat bi’dah karena sudah dicukupkan bagi kalian hendaknya kalian berpegang teguh dengan urusan yang lama”.

Hal ini karena bid’ah adalah tambahan pada Ad Dien ini yang tidak dibenarkan serta merupakan tasyabbuh (meniru-niru) musuh-musuh Allah Azza wa Jalla dari kalangan Yahudi dan Nasrani yang menambah-nambah agama mereka. (Perayaan isra’mi’raj ini merupakan tasyabbuh dengan kaum Nasrani yang merayakan peristiwa kenaikan Isa Al Masih menurut persi mereka –pent). Dan mengadakan tambahan dalam Ad Dien (bid’ah) merupakan tuduhan bahwa agama Islam masih kurang dan belum sempurna, tentu saja hal ini adalah kerusakan dan kemungkaran yang sangat besar serta bertentangan dengan firman Allah :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ . المائدة:3

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian “

Dan sangat kontradiksi dengan sabda-sabda Rasulullah yang memperingatkan akan bahawa bid’ah dan perintah untuk menjauhinya. Kami berharap apa yang telah kami sebutkan dari dalil-dalil sudah cukup dan memuaskan bagi para pencari kebenaran dalam mengingkari bid’ah ini yaitu bid’ah memperingati malam Isra’Mi’raj dan memberikan peringatan terhadapnya.

Dan tatkala Allah Azza wa Jalla mewajibkan menasehati kaum muslimin dan menjelaskan apa yang Allah syariatkan kepada mereka dari Ad Dien serta haramnya menyembunyikan ilmu maka saya melihat perlunya memperingatkan saudara-saudaraku kaum muslimin akan bid’ah yang sudah begitu tersebar dibanyak negeri hingga sebagian manusia menganggapnya bagian dari Ad Dien. Dan kita memohon kepada Allah untuk memperbaiki keadaan seluruh kaum muslimin dan memberikan kepada mereka pemahaman akan Ad Dien serta memberikan taufiq kepada kita agar dapat berpegang teguh kepada kebenaran dan senantiasa istiqomah, serta meninggalkan apa saja yang bertentangan dengan kebenaran.

Shalawat dan salam serta keberkahan semoga dicurahkan kepada hamba-Nya dan Rasul-Nya nabi kita Muhammad, para keluaraga dan shahabat-shahabatnya.
-Abu Abdillah-

Maraji’ : At Tahdzir Min Al Bida’, Al ‘Allamah Abdul Aziz bin Baz –rahimahullahu-

(Al Fikrah Tahun 1 Edisi 12)


Blog EntryBID’AH KHASANAH,...ITULAH BID’AH !Aug 9, '07 3:21 PM
for everyone
بسم الله الحمن الرحيم

Telah disebutkan oleh Rasulullah bahwa:

“Berhati-hatilah dari hal yang baru, karena setiap yang baru itu bid’ah dan setiap kebid’ahan itu sesat."(HR. Tirmidji dan Ibnu Majah).
“Barangsiapa yang membuat-buat dalam perkaraku(agamaku) ini, sesuatu yang bukan darinya maka dia tertolak.”(HR. Bukhari Muslim).
“Barangsiapa yang beramal satu amalan yang tidak ada perintahku padanya, maka dia tertolak.”(HR. Muslim).

Bid’ah adalah setiap hal yang tidak mempunyai dasar dalam agama yang dilakukan dalam rangka beribadah kepada Allah , seperti:

1. Upacara maulid Nabi, isra mi’raj, malam nisfu sya’ban dan sebagainya.
2. Berdzikir dengan tarian, tepuk tangan dan pukulan terbang begitu juga meninggikan suara dan mengganti nama-nama Allah seperti dengan ah, ih, aah, hua, hia.
3. Mengadakan acara selamatan dan mengundang para kyai untuk membaca Al-Quran setelah wafatnya seseorang dan lain sebagainya.

Hal ini merupakan kebid’ahan dalam hal agama yang ditolak oleh Islam dan hukumnya sesat. Adapun bid’ah duniawi ada dua macam yaitu bid’ah negatif seperti bioskop, TV, video dan sejenisnya yang dapat merusak akhlak dan membahayakan masyarakat karena film-film yang ditampilkan tidak sesuai dengan syari’at Islam sehingga berbahaya terhadap akidah dan akhlak kita. Sedangkan yang positif diantaranya adalah kapal terbang, mobil, telepon dan yang lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat dan mempermudah urusannya.

Rasulullah sebagai pembawa risalah kebenaran dan sebaik-baik teladan umat telah melaksanakan tugasnya dengan amat sempurna. Tiada satupun dari perkara agama yang luput beliau sampaikan, hingga Allah berfirman ketika haji wada’ yang menjelaskan bahwa tugas kerasulan beliau telah selesai, yaitu: “Pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu, kucukupkan nikmatku atasmu serta kuridhoi Islam sebagai agamamu.(QS. Al-Maidah: 3).

Imam Malik rahimahullah berkata,” Siapapun yang membuat bid’ah dalam Islam dan menganggapnya hasanah(baik), maka sungguh ia telah menyangka bahwa Nabi Muhammad telah mengkhianati misi kerasulan, berdasarkan firman Allah ta’ala diatas, maka yang tidak dijadikan-Nya agama pada saat itu begitupun pada saat ini.”(Al-I’tishom I/64).

Asy-Syaukani berkata,” Maka jika Allah telah menyempurnakan agama-Nya sebelum mewafatkan Nabi-Nya, disebut apalagi pendapat orang setelah Allah menyempurnaknnya?!? Jika mereka berkeyakinan itu termasuk dalam perkara agama, berarti belumlah sempurna kecuali denagn disertakannya pendapat mereka dan itu adalah penolakan terhadap Al-Quran. Adapun jika mereka tidak berkeyakinan bahwa itu bukan termasuk agama, lalu untuk apa menyibukkan diri dengan sesuatu yang bukan agama???”
Ini merupakan pukulan telak serta dalil yang agung tak mungkin terelakkan, dari itu jadikanlah ayat yang mulia ini sebagai senjata pertama untuk melumpuhkan para ahli bid’ah.

Asy-Syaukani kembali berkata,” Hadist-hadist di awal pembahasan ini termasuk kaidah-kaidah dasar agama yang mencakup berbagai hukum secara tak terbatas, betapa sangat tepat dan lantangnya dalil, ini dalam mematahkan pendapat di antara ahli fiqih yang membagi bid’ah ke dalam berbagai kategori dan menjadikan indikasi ketertolakan bid’ah pada sebagiannya tanpa menyertakan dalil yang mengkhususkan baik ‘aqli maupun naqli.”(Nailul author 2/69).

Sabda Rasulullah yang berbunyi,” Setiap kebid’ahan adalah sesat” telah dijelaskan oleh para ulama dengan sangat gamblang, diantaranya yaitu:

1. Ibnu Rajab berkata,” Kalimat ini simple dan sederhana namun memiliki cakupan makna yang luas tanpa kecuali serta merupakan kaidah dasar yang agung di antara sekian kaidah-kaidah agama.”(Jami’ul ‘Ulum 28).

2. Ibnu Hajar berkata,” Sabda beliau tersebut adalah kaidah agama yang global baik secara tersurat (manthuq) maupun secar tersirat (mafhum)nya. Secara aplikatif dapat dikatakan sebagai berikut,” Hukum hal ini adalh bid’ah dan setiap kebid’ahan adalah kesesatan. Maka tidak termasuk dalam syari’ah karena semua syari’ah adalah petunjuk, sehingga jika kedua premis tersebut benar maka benarlah hasilnya.”(Fathul Baary 13/254).

3. Syaikh Al-Utsaimin berkata,” Sabda beliau di atas berindikasi global, umum serta menyeluruh, diperkuat pula dengan indikator keumuman kata yang terkuat yaitu ”Kullu(setiap)”. Beliau melanjutkan,” Dengan demikian yang disebut sebagai bid’ah hasanah terbantah dengan hujjah ini, tidak ada lagi jalan yang dapat dilalui oleh orang-orang yang berkeinginan untuk menjadikan bid’ah-bid’ahnya sebagai bid’ah hasana.

Inilah pedang kita untuk membantah mereka, karena hujjah ini dibuat dalam ruang produksi kenabian dan kerasulan, bukan dalam pabrik kerancuan dan kekacauan. Ia didesign oleh Baginda Rasulullah dengan amat sempurna dan layak guna di setiap zaman. Mungkinkah orang yang bersenjatakan pedang semacam ini mampu dilawan dengan orang-orang yang hanya bersenjatakan bid’ah lalu mengklaimnya sebagai bid’ah hasanah??? Sementara di sisi lain kita mendapati bahwa amat sangat jelas Rasulullah bersabda,”Setiap bid’ah adalah sesat.”

Telah kita ketahui bersama bahwa Rasulullah dengan tegas menyatakan bahwa,” Semua bid’ah adalah sesat.” Akan tetapi diantara para pelaku bid’ah dengan berbagai cara telah melontarkan subhat-subhat untuk mendukung kebid’ahan mereka. Diantara beberapa subhat tersebut bisa anda baca pada uraian berikut. Semoga kita bisa mengambil manfaatnya. Wallahu waliyut taufiq.

1. Pemahaman mereka terhadap hadits,” Barang siapa yang memberi contoh yang baik di dalam Islam, maka dia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang melakukannya setelah itu tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barang siapa memberi contoh yang buruk dalam Islam maka dia akan mendapatkan beban dosanya serta dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi beban mereka sedikitpun.”(HR. Muslim no: 1017).

Bantahan:
• Bahwa ma’na barang siapa dalam hadits tersebut adalah barang siapa yang memberi contoh aplikatif bukan inovatif. Maka yang dimaksud dengan hadits tersebut adalah mengamalkan sesuatu yang telah ada dalam sunnah nabawiyah(bukan yang diada-adakan).
• Yang menyatakan ,”Barang siapa yang memberi contoh yang baik dalam Islam” adalah yang menyatakan,” Setiap bid’ah adalah sesat.”Dan mustahil beliau mengatakan sesuatau yang mendustakan pernyataannya sendiri sehingga informasi Islam ini berbenturan.(Al-Ibda’ Ibnu Utsaimin hal:19).
• Belum pernah ada keterangan dari seorangpun diantara salafus sholeh bahwa beliau menafsirkan “sunnah hasanah” dengan bid’ah yang mereka ada-adakan dalam masalah agama semau mereka.

2. Pemahaman mereka terhadap ucapan Umar Bin Al-Khattab yang mengatakan,” Sebaik-baik bid’ah adalah ini.”(HR. Bukhari no 2010).
Bantahan:
• Seandainya kita terima apa yang mereka dakwahkan bahwa ini merupakan indikasi adanya bid’ah hasanah(meskipun bukan begitu adanya), maka sudah jelas bahwa perkataan Rasulullah tidak mungkin dibatalkan oleh perkataan siapapun diantara manusia, Abu Bakar sekalipun yang merupakan orang termulia diantara umat ini setelah Rasulullah , atau Umar sebagai yang kedua dan lain-lainnya. Imam Ahmad Bin Hambali berkata,” Barang siapa yang menolak hadits Nabi, maka sesungguhnya dia berada di tepi jurang kehancuran.”(Thabaqal Al-Hanabilah 2/15 dan Al-Ibanah 1/260).
• Bahwa beliau mengatakan hal itu pada saat menyatukan orang dalam sholat tarawih, sementara sholat tarawih bukanlah bid’ah melainkan sejatinya sunnah berdasarkan hadits yang disampaikan oleh Aisyah Bahwa Rasulullah pada suatu malam sholat di dalam masjid, maka dimakmumi oleh orang-orang begitupula pada malam berikutnya bahkan bertambah banyak. Lalu tatkala mereka telah berkumpul pada malam ketiga atau keempat beliau tidak keluar, seusai sholat shubuh beliau berkata: ”Aku tahu apa yang kalian lakukan dan tidak ada alasan yang menghalangiku melainkan kekhawatiranku akan diwajibkannya(sholat malam ini) atas kalian.”Dan ini terjadi di bulan Ramadhan.(HR. Bukhary no 1129). Dari sini jelas sebab ditinggalkannya berjama’ah dalam syari’ah sholat tarawih. Maka tatkala sebab tersebut telah tiada Umarpun menghidupkannya kembali. Jadi apa yang dilakukannya memiliki dasar dari perbuatan Rasulullah .
• Jika yang telah beliau lakukan itu bukan bid’ah, lalu apakah ma’na bid’ah yang beliau maksudkan? Maksud beliau tentang bid’ah tersebut adalah secara bahasa bukan dalam konteks syar’iy. Bid’ah secara bahasa berarti sesuatu yang dilakukan tanpa didahului contoh sebelumnya, maka tatkala itu tidak dilakukan di zaman Abu Bakar dan tidak pula di awal zaman Umar, jadilah dia bid’ah dalam pengertian bahasa karena tidak dicontohkan sebelumnya. Adapun dalam konteks syar’iy maka tidak termasuk bid’ah karena ada contoh dari Rasulullah.

3. Pemahaman mereka terhadap atsar,” Apapun yang dianggap baik oleh kaum muslimin, maka hal itu baik menurut Allah .”(Musnad Ahmad 1/39).
Bantahan:
• Periwayatan atsar tersebut hanya sampai pada Abdullah Ibnu Mas’ud dan tidak sampai pada Rasulullah . Ibnul Qoyyim berkata,” Atsar ini bukan perkataan Rasulullah dan tak seorangpun menisbatkannya kepada beliau kecuali ia tidak mengerti tentang hadits. Ini hanyalah dari Ibnu Mas’ud.”(Al-Furuusiyyah, Ibnul Qoyyim hal:167). Komentar Az-Zaila’iy:” Gharib secara marfu’ dan tidak aku dapatkan kecuali terhenti pada Ibnu Mas’ud.”(Nashburrayah 4/133).
• Fungsi alif lam dalam kata “almuslimun”(pada atsar di atas) adalah untuk menyatakan sesuatu yang telah diketahui yaitu para shahabah sebagaimana yang ditunjukkan oleh alur kalimat dalam atsar tersebut dimana dikatakan di situ,” Sesungguhnya Allah melihat hati-hati para hambaNya, maka Allah dapatkan hati Muhammad sebaik-baiknya lalu Allah pilih beliau untuk diri-Nya dan mengutusnya untuk mengemban misi-Nya, di mana hati para shahabah adalah yang terbaik lalu Allah jadikan mereka para pendukungnya. Mereka berperang demi membela agamanya, maka apapun yang dianggap baik para muslimun tersebut baik pulalah dalam pandangan Allah. Sebaliknya apapun yang dianggap buruk oleh mereka, maka buruk pulalah dalam pandangan Allah .”
• Bagaimana mungkin berdalih untuk menganggap baiknya sebuah bid’ah dengan perkataan seorang shahabah yang merupakan orang yang paling keras dalam melarang daqn mengecam bid’ah. Bukankah telah kita baca bersama beliau mengatakan:”Ikutilah dan jangan membuat bid’ah, karena sesungguhnya kalian telah dicukupkan dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” Dan banyak lagi ucapan-ucapan beliau yang lain dalam hal ini.

4. Perkataan Imam Syafi’iy (semoga Allah merahmatinya),” Bid’ah itu ada dua macam, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela.”(Hilyatul aulia 9/113). “ Yang diada-adakan dalam agama itu ada dua macam, yang diada-adakan menyelisihi Al-Quran atau sunnah, atsar atau ijma’ maka itulah bid’ah kesesatan. Sementara yang diadakan dari kebaikan yang tidak bertentangan dengan itu semua, maka itu adalah muhdash yang tidak tercela.”(Manaaqib Asy-Syafi’iy, Albaihaqy 1/469 dan Al-Baaits Abii Syaamah hal 94).
Bantahan:
• Perkataan Rasulullah merupakan hujjah atas siapapun, tidak boleh dikalahkan dengan perkataan siapapun. Tidak berlaku sebaliknya.
• Bila kita cermati perkataan beliau, tidak ragu lagi bahwa yang beliau maksudkan dengan bid’ah terpuji adalah bid’ah secara bahasa, sebab semua bid’ah dalam syari’ah yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah, sedangkan beliau mendefinisikan bid’ah terpuji dengan batasan bahwa hal itu tidak bertentangan dengan al-Kitab dan As-Sunnah dan setiap bid’ah dalam syaria’h pasti menyelisihi firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 3.
• Beliau(Imam Syafi’iy) terkenal dengan antusiasmenya yang tinggi dalam mengikuti jejak Rasulullah serta sangat murka terhadap orang yang menolak hadits Rasulullah . Beliau berkata,” Jika telah kau dapatkan dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi sunnah Rasulullah , maka ambillah sunnah itu dan tinggalkan fatwaku.”(Siyar 10/43).

5. Pernyataan Al ‘Izz Ibnu Abdissalam:” Bahwa bid’ah terbagi kedalam kategori wajib, haram, sunnah dan mubah. Dan cara mengetahuinya adalah dengan menimbang bid’ah tersebut di atas kaidah-kaidah syar’iyyah. Jika masuk dalam kaidah yang menghasilkan hukum wajib, maka keberadaan bid’ah tersebut menjadi wajib begitupula jika haram.”(Qowa’idul Ahkam 2/173).
Bantahan:
• Tidak boleh membantah hadits Rasulullah dengan perkataan siapapun.
• Asy-Syathibi berkata:” Pembagian ini adalah rekayasa tak berdalilkan syar’iy dan kontradiktif dengan sendirinya. Karena hakekat bid’ah adalah kehampaannya dari dalil syar’iy baik secara nash maupun kaidah-kaidah yang terintisarikan daripadanya karena seandainya ada dalil syar’iy atas pembagian itu niscaya tidak ada istilah bid’ah dan berarti pula merupakan usaha korelasi antara dua hal yang selalu kontradiktif (Jam’un baina mutanafiyaini).”(Al-I’tishom 1/246).
• Bahwa bid’ah yang dimaksud beliau adalah bid’ah secara bahasa, bukan syar’iy berdasarkan contoh-contoh yang beliau berikan dalam hal itu.
• Al’Izz adalah sosok ulama yang terkenal dengan sikap penyerangan serta pelarangannya yang keras terhadap bid’ah. Bahkan beliau sendiri yang melarang orang melakukan hal-hal yang mereka namakan dengan bid’ah hasanah..

Dari uraian di atas dapat kita ambil suatu hikmah yang besar yaitu bahwasanya perkataan Rasulullah tidak terbantahkan dengan hujjah-hujjah dari para pembela bid’ah bahkan oleh perkataan shabat beliau sendiri karena semua apa yang beliau katakan tidak berdasarkan nafsu melainkan karena bimbingan Allah azza wajalla yaitu wahyu. Sehingga bagaimana mungkin sesuatu yang sesuai dengan sunnah dikatakan sebagai bid’ah???Pencampuradukan antara ma’na bahasa dengan ma’na terminologi syar’iy telah membuat ahli bid’ah tersesat dari rahmat Allah padahal rahmat-Nya amatlah luas kepada orang-orang yang dapat membedakan antara keduanya karena taufiq dari Allah . Semoga kita termasuk di dalam golongan ini. Allah musta’an.

Bencana bulan Rajab : Bid’ah Peringatan Isra’ Mi’raj







Blog Entry KRITERIA AMAL SHALEH Jul 27, '07 12:47 AM
for everyone





















KRITERIA
AMAL SHALEH

ضوابط العمل الصالح

Penyusun:
Zein Abu Wafa’
Daaiyah di Islamic Cultural Center Dammam
مطوية رقم 14
ط الأولى 1423 هـ

بسم الله الرحمن الرحيم

KRITERIA
AMAL SHALEH

Untuk mengetahui sah atau tidaknya amalan seseorang sangatlah mudah, Anda cukup mendatangi salah seorang ustadz atau kyai, kemudian sebutkanlah sifat dan cara ibadah yang Anda maksud, setelah itu sang ustadz akan sangat mudah untuk memhukumi amalan tersebut, sah atau tidak.
Akan tetapi jikalau Anda ingin mengetahui apakah amalan Anda itu shaleh (diterima) atau tidak di sisi Allah Azza wa Jalla, ini hal yang sangat sulit, karena tidak ada yang mengetahui akan hal ini secara pasti kecuali Allah Azza wa Jalla saja.
Namun walau demikian, Allah Azza wa Jalla Maha Pemurah bagi hambaNya, Dia telah memberikan rambu-rambu penting dalam beribadah, agar kita sekalian minimal memiliki gambaran tentang nasib amalan ibadah yang kita lakukan. Oleh sebab itu, setiap muslim hendaknya tidak hanya bercita-cita bagaimana agar amalannya sah semata, akan tetapi ia harus lebih berharap bagaimana agar amal ibadahnya diterima dan menjadi amal shaleh di sisi Allah Azza wa Jalla.
Para Salafus Shaleh telah berupaya untuk mengumpulkan kriteria diterimanya suatu amal dengan cara istiqra’ (penelitian) dari
nash Al Qur’an dan Sunnah. Syarat-syarat dan kriteria tersebut antara lain:
1. Ikhlas.
2. Mengikuti Sunnah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Oleh sebab itu, hendaklah kita mengikhlaskan seluruh amal ibadah kita kepada Allah dan memurnikannya dari segala bentuk kemusyrikan. Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
“Tidaklah mereka diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan semurni-murni ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah 4)
Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا الأعْمَالُ بِالنِّيَاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sungguh hanyasannya setiap amalan itu tergantung pada niatnya, dan bagi setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan yang telah ia niatkan.” (HR. Muttafaqqun Alaihi)
Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pun berkata:
إِنَّ اللهَ لا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلا مَا كَانَ لَهُ خَالِصاً وَابْتَغِي بِهِ وَجْهَهُ (رواه النسائي وحسنه الألباني)
“Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amalan kecuali dari orang yang ikhlas dan hanya mengharap wajahNya.”
(HR. An Nasa’i dan dihasankan oleh Syeikh Al Albani)
Di samping mengikhlaskan amal, kitapun dituntut untuk beramal sesuai dengan apa yang telah disyariatkan oleh Allah Azza wa Jalla melalui lisan RosulNya, Allah Azza wa Jalla berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
“Katakanlah: Jikalau kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali Imron 31)
Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini, yang bukan darinya maka dia tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim) dan di dalam riwayat yang lain beliau bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرِنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalannya tertolak.”
Dengan dua syarat inilah seorang muslim dapat terjaga dari musuh-musuh beratnya yaitu; Riya, Bid’ah dan Syirik. Abul Izz Al Hanafi berkata: “…Maka keduanya merupakan tauhid, tidak ada yang dapat menyelamatkan seorang muslim dari adzab
Allah kecuali dengan keduanya: Pentauhidan Yang mengutus (tauhidul mursil), dan Pentauhidan mengikuti yang diutus Shallallahu alaihi wa sallam.” (Syarh Al Aqidah Ath Thahawiyah, hal: 200)
Ibnu Taemiyah berkata: “Secara umum, keduanya merupakan dua landasan agung, yaitu: pertama: Hendaklah kita tidak beribadah kecuali kepada Allah, kedua: Kita tidak beribadah kepadaNya kecuali dengan apa yang telah disyariatkanNya.”. dan kedua syarat ini adalah merupakan realisasi dari dua kaliamat syadat, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا
Artinya: “Agar (Allah) menguji kalian; siapa diantara kalian yang paling baik amalannya.” (QS. Al Mulk 2)
Al Fudhail bin Iyadh berkata: “Yang terikhlas dan terbenar.” Mereka bertanya: Wahai Abu Ali, apakah yang dimaksud yang terikhlas dan terbenar? ia berkata: sesungguhnya suatu amalan itu apabila dikerjakan dengan ikhlas namun tidak benar, maka ia tidak akan diterima, dan apabila dikerjakan dengan benar namun tidak ikhlas, itupun tidak akan diterima, sehingga ia menjadi ikhlas. Dapat menjadi ikhlas manakala dikerjakan karena Allah Azza wa Jalla, dan benar manakala sesuai dengan sunnah, dan itulah realisasi firman Allah Azza wa Jalla:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Maka barang siapa yang mengharap berjumpa dengan Robbnya, hendaklah ia beramal shaleh, dan janganlah ia menyekutukanNya di dalam ibadah dengan seorangpun juga.” (Majmu’ fatawa 1/333-334)
Ibnul Qoyyim berkata: “Seorang hamba tidak dapat merealisasikan Iyyaka na’budu (hanya kepadaMu-lah kami beribadah) kecuali dengan dua asas yang agung, Pertama: Mengikuti Rosul Shallallahu alaihi wa sallam. Kedua: Ikhlas bagi Yang diibadahi.” (Madarijus salikin 83)
Mengerjakan sesuatu yang telah disyariatkan, dapat menjaga seorang muslim dari terjerumus ke dalam jurang kebid’ahan yang mesti ia hindari. Ibnu Taemiyyah berkata: “Demikian juga jika para Ubbad telah beribadah dengan perkataan dan amalan yang telah disyariatkan secara lahir dan batin, dan mereka telah merasakan manisnya perkataan yang baik dan amalan shaleh yang telah diperintahkan oleh Allah Azza wa Jalla melalui perantaraan rosulNya, niscaya mereka akan mendapatkan keadaan yang suci bersih dan kedudukan yang tinggi serta hasil yang memuaskan, tercukupi dari segala bentuk yang diada-adakan, seperti lagu-lagu tasawuf, bentuk-bentuk dzikir dan wirid yang telah dibuat oleh sekelompok Ahlul bid’ah karena

kekurangan loyalitasnya terhadap sesuatu yang telah disyariatkan.” (Iqtidha hairatal Mustaqim 2/99)
Kita berharap semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan orang yang disebutkan Allah Azza wa Jalla dalam firmanNya:
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بالأَخْسَرِينَ أَعْمَالا(103)الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا(104)
“Katakanlah: Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Al Kahfi 103-104)
dan dimasukkan ke dalam golongan orang yang ikhlas dan senantiasa mengikuti sunnah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tanpa menambah atau menguranginya. Dan semoga kita diteguhkan dalam golongan ini sampai akhir hayat kita. Amin.







Blog EntryDOSA WANITA GAULJul 27, '07 12:43 AM
for everyone
بسم الله الرحمن الرحيم

APAKAH SAUDARI TAHU:
DOSA WANITA GAUL ?!!
Penyusun: Dr. Shaleh Bin Abdullah Ash-Shiyah

1. Wanita penghuni Neraka. Rosulullah Shallallaahu ‘alai Wa Sallam bersabda: “Dua golongan dari penghuni Neraka yang tidak pernah aku lihat:…dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berlenggak lenggok, kepala-kepala mereka (bersanggul.pent) seperti pundak unta, mereka itu tidak masuk Surga dan tidak akan mencium harumnya, dan sesungguhnya bau harumnya Surga itu dapat tercium sejak sekian dan sekian perjalanan.” (HR. Muslim)
Keterangan: Wanita yang berpakaian tapi telanjang bisa terjadi karena: 1. mengunakan pakaian yang tidak menutup seluruh aurat, atau 2. menggunakan pakian yang tembus pandang, atau 3. berpakaian yang membentuk bagian anggota-anggota tubuh. Pent).
2. Akan telanjang di Akhirat, Rosulullah Shallallaahu ‘alai Wa Sallam bersabda: “Betapa banyak wanita yang berpakaian di dunia, namun telanjang di Akhirat.” (HR. Bukhari).
3. Manusia yang paling dimurkai oleh Allah Azza Wa Jalla. Rosulullah Shallallaahu ‘alai Wa Sallam bersabda: “Manusia yang paling dimurkai Allah ada tiga: ....dan orang yang mencari kebiasaan Jahiliyyah di dalam Islam.” (HR. Bukhari)
Dan di antara kebiasaan Jahiliyyah adalah bertabarruj dan berpenampilan gaul. Allah Azza Wa Jalla berfirman: “Dan janganlah kalian (wahai kaum wanita) bersolek seperti orang-orang jahiliyyah yang pertama.” (QS. Al-Ahzab 33)
4. Berdosa sebanyak orang yang mengikutinya atau terfitnah dengannya. Rosulullah Shallallaahu ‘alai Wa Sallam bersabda: “Barang siapa menyeru kepada kesesatan, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya, dengan tanpa mengurangi dari dosa mereka sedikitpun juga.” (HR. Muslim)
5. Dia adalah wanita terkutuk. Diriwayatkan: “Wanita-wanita mereka berpakaian (tapi) telanjang, di atas kepala-kepala mereka bagaikan pundak-pundak unta…mereka itu adalah wanita-wanita terkutuk…” (HR. Ahmad).
6. Dia adalah wanita pelacur. Rosulullah Shallallaahu ‘alai Wa Sallam bersabda: “Wanita mana saja yang menggunakan wangi-wangian, kemudian ia melewati suatu kaum agar mereka mencium baunya, maka wanita itu wanita pelacur.” (HR. Abu Dawud).
7. Shalatnya tidak akan diterima. Rosulullah Shallallaahu ‘alai Wa Sallam bersabda: “Wanita mana saja yang menggunakan wangi-wangian, kemudian ia keluar menuju Mesjid, shalatnya tidak akan diterima sehingga ia mandi.” (HR. Ibnu Majah).
8. Dia adalah wanita yang tercampakkan tabir keimanannya. Rosulullah Shallallaahu ‘alai Wa Sallam bersabda: “Wanita mana saja yang meletakkan pakaiannya di selain rumah suaminya, maka sungguh ia telah mencampakkan tabir (keimanan) antara dia dengan Allah.” (HR. Al-Hakim).
9. Wanita yang durhaka kepada Tuhannya. Allah Azza Wa Jalla berfirman: “Dan hendaklah mereka tinggal di dalam rumah dan janganlah bertabarruj seperti tabarruj orang-orang jahiliyyah yang pertama.” (QS. Al-Ahzab 33)
Rosulullah Shallallaahu ‘alai Wa Sallam bersabda: “Janganlah kalian melarang wanita hamba-hamba Allah untuk pergi ke mesjid-mesjid Allah, dan hendaklah mereka keluar dalam keadaan tertutup, dan rumah mereka itu lebih baik bagi mereka.” (HR. Abu Dawud).
10. Senjata Setan. Rosulullah Shallallaahu ‘alai Wa Sallam: “Wanita itu aurat, maka apabila ia keluar setan mendapinginya. Dan keadaan terdekat seorang wanita dengan Tuhannya adalah ketika ia ada di dalam rumahnya.” (HR. Tirmidzi).

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh:
Abul Wafa’



Blog EntryUNDANGAN KE SURGAJul 16, '07 11:36 PM
for everyone
UNDANGAN KE SURGA
Oleh : Syaikh ‘Ied Al ‘Anazy
Alih bahasa : Zezen Zainal Mursalin, Lc.

 Apakah anda ingin merasa dekat kepada Allah  ?
Rasulullah  bersabda, yang artinya : “Keadaan terdekat yang dimiliki seorang hamba terhadap Rabbnya adalah ketika ia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah didalamnya do’a”. [HR. Muslim]

 Apakah anda ingin mendapatkan pahala ibadah Haji bersama Rasulullah  ?
Beliau  bersabda, yang artinya : “Umrah di bulan Ramadhan setimpal (pahalanya) Haji atau Haji bersamaku”. [HR. Bukhari Muslim/Muttafaqun ‘alaihi]

 Apakah anda ingin sebuah Rumah di Surga ?
Rasulullah  bersabda, yang artinya : ”Barangsiapa yang membangun Masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisalnya di Surga”. [HR. Muslim]

 Apakah anda ingin mendapatkan keridhaan Allah  ?
Rasulullah  bersabda, yang artinya : “Sesungguhnya Allah akan ridha terhadap seorang hamba yang makan sebuah makanan kemudian ia memuji-Nya atas makanan tersebut dan meminum minuman kemudian ia memuji-Nya karena minuman tersebut”. [HR. Muslim]

 Apakah anda ingin dikabulkan do’anya
Rasulullah  bersabda, yang artinya : “Do’a yang tidak akan ditolak adalah do’a diantara Adzan dan Iqomah”. [HR. Abu Daud]

 Apakah anda ingin mendapatkan pahala Shaum (puasa) sepanjang tahun ?
Rasulullah  bersabda, yang artinya : “Shaum 3 (tiga) hari dari setiap bulan (penanggalan Hijriah), (pahalanya) seperti Shaum sepanjang tahun”. [HR. Bukhari Muslim/Muttafaqun ‘alaihi]

 Apakah anda ingin memiliki kebaikan seperti Gunung ?
Rasulullah  bersabda, yang artinya : “Barangsiapa yang menyaksikan Jenazah sehingga ia menshalatkannya maka baginya satu pundi pahala. Dan barangsiapa yang menyaksikannya hingga dikuburkannya maka baginya dua pundi pahala”. Dikatakan, “seperti apa dua pundi itu ?”. Beliau  menjawab : “Seperti dua Gunung besar”. [HR. Muttafaqun ‘alaihi]

 Apakah anda ingin bersama dengan Rasulullah  di Surga ?
Beliau  bersabda, yang artinya : “Aku dan orang yang menyantuni anak Yatim seperti ini di Surga”. Beliau  mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. [HR. Bukhari]

 Apakah anda ingin mendapatkan pahala seorang Mujahid atau pahala orang Shaum atau Tahajjud ?
Rasulullah  bersabda, yang artinya : “Orang yang menyantuni janda yang ditinggalkan oleh suaminya dan orang yang menyantuni orang miskin seperti Mujahid fi Sabilillah”. Dan aku mengira Beliau  bersabda, “Seperti orang yang tidak henti melakukan Tahajjud dan seperti orang yang Shaum tidak berbuka (sepanjang tahun). [HR. Muttafaqun ‘alaihi]

 Apakah anda ingin mendapatkan jaminan pribadi dari Rasulullah  untuk masuk Surga ?
Rasulullah  bersabda, yang artinya : “Barangsiapa yang menjamin bagiku apa yang ada diantara dua jenggotnya (mulut/lidahnya) dan apa yang ada diantara kedua kakinya (kemaluannya), maka aku menjamin Surga baginya” [Muttafaqun ‘alaihi]

 Apakah anda ingin agar amalan anda tidak terputus walaupun setelah anda wafat ?
Rasulullah  bersabda, yang artinya : “Apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara ; Sadaqah Jariyah, ‘ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang senantiasa mendoakannya” [HR. Muslim]

 Apakah anda ingin memiliki harta simpanan di Surga ?
Rasulullah  bersabda, yang artinya : “Laa Hawla walaa quwwata illah billah” (Tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali atas izin Allah), adalah salah satu perbendaharaan dari perbendaharaan Surga”. [Muttafaqun ‘alaihi]

 Apakah anda ingin mendapatkan pahala Qiyamullail (shalat malam) sepanjang malam ?
Rasulullah  bersabda, yang artinya : “Barangsiapa yang shalat ‘isya secara berjama’ah, maka seakan-akan ia telah Tahajjud setengah malam dan barangsiapa yang melaksanakan shalat subuh secara berjama’ah, maka seakan-akan ia telah Tahajjud sepanjang malam”. [HR. Muslim]

 Apakah anda ingin membaca sepertiga Al-Qur’an dalam satu menit ?
Rasulullah  bersabda, yang artinya : “Qul Huwallahu ahad’ (Surat Al-Ikhlash) setimpal dengan sepertiga Al-Qur’an”. [HR. Muslim]

 Apakah anda ingin timbangan kebaikan anda bertambah berat ?
Rasulullah  bersabda, yang artinya : “Dua kalimat yang dicintai oleh Yang Maha Pemurah, ringan diucapkan, namun berat timbangannya di Sisi Allah, yakni ‘Subhanallahi wa bihamdihi dan subhanallail ‘adziim”. [HR. Bukhari]

 Apakah anda ingin dimudahkan rezki dan dipanjangkan usia anda ?
Rasulullah  bersabda, yang artinya : “Barangsiapa yang ingin dimudahkan rezkinya atau dipanjangkan usianya, maka hendaknya ia menyambung tali persaudaraan”. [HR. Bukhari]

 Apakah anda ingin Allah senang berjumpa anda ?
Rasulullah  bersabda, yang artinya : “Barangsiapa yang merindukan berjumpa dengan Allah, maka llah merindukan pula berjumpa dengannya”. [HR. Bukhari]

 Apakah anda ingin dilindungi oleh Allah ?
Rasulullah  bersabda, yang artinya : “Barangsiapa yang melaksanakan shalat subuh, maka ia ada dalam perlindungan Allah”. [HR. Muslim]

 Apakah anda ingin agar dosa perbuatan anda diampuni oleh Allah ?
Rasulullah  bersabda, yang artinya : “Barangsiapa yang mengatakan ‘Subhanallahi wa bihamdihi’ dalam satu hari seratus kali, maka akan dihapuskan dosanya walaupun seperti buih di lautan”. [Muttafaqun ‘alaihi]

 Apakah anda ingin dijauhkan dari Neraka sejauh tujuh puluh tahun ?
Rasulullah  bersabda, yang artinya : “Barangsiapa yang melaksanakan Shaum (Puasa) di Jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari Api Neraka , sejauh tujuh puluh musim gugur”. [HR. Bukhari]

 Apakah anda ingin Allah  bershalawat (memberikan rahmat) kepada hamba-Nya ?
Rasulullah  bersabda, yang artinya : Barangsiapa yang bershalawat kepadaku dengan satu shalawat, maka Allah akan memberikan shalawat kepadanya sebanyak sepuluh kali ? [Muttafaqun ‘alaihi]

 Apakah anda ingin diangkat derajat anda oleh Allah
Rasulullah  bersabda, yang artinya : “Tidak merendahkan diri seseorang karena Allah, kecuali Allah  akan mengangkat derajatnya”. [HR. Muslim]












Blog EntryKENAPA HARUS HIJAB SYAR’I ?Jul 16, '07 1:16 AM
for everyone
KENAPA HARUS HIJAB SYAR’I ?

1. Karena berbusana muslimah yang syar’i merupakan ibadah syar’i yang wajib, memiliki pahala yang besar. Pahala ini bermula ketika menggunakannya dan berakhir dengan melepasnya.
2. Perlu saudari ketahui, bahwa saudari senantiasa berada dalam keadaan ibadah apabila:
a. Saudari tetap berada di dalam rumah dan tidak keluar darinya kecuali untuk suatu kepentingan.
b. Atau apabila saudari keluar rumah demi satu kepentingan dan saudari selalu menjauhi tempat-tempat berkumpul kaum pria.
c. Atau apabila saudari melewati kaum pria namun saudari tetap dalam keadaan berhijab, karena saat itu saudari telah mematuhi perintah Allah Azza Wa Jalla . Dia berfirman: “Dan hendaklah kalian diam di rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj seperti orang-orang jahiliyyah yang pertama.” (QS. Al-Ahzab 33).
3. Karena menggunakan hijab syar’I merupakan salah satu jihad fi sabilillah, khususnya pada zaman ini di mana musuh-musuh Islam berusaha untuk memerangi hijab muslimah ini agar mereka menguasai umat ini.
4. Menggunakan hijab syar’i dapat menjaga seorang muslimah dari berbagai kejahatan: Pandangan hasad, kesurupan, kejahatan Jin dan Manusia, sehingga mereka segan keada saudari. Allah Azza Wa Jalla berfirman: “Karena (dengan hijab Syar’I itu) mereka akan lebih dikenal maka mereka tidak dianiaya.” Dikenal sebagai wanita yang menjaga kehormatannya, wanita yang terhormat dan jauh dari keraguan. Sehingga orang-orang yang sakit hatinya tidak berusaha menggodanya.
5. Karena menggunakan hijab syar’i sebagai tanda kehormatan seorang wanita, dan kekuatan agama dan akalnya serta menandakan jauhnya dari berbagai keraguan. Dan inilah sifat terpenting yang diinginkan oleh seorang pria yang mencari pendamping hidup.
6. Pahala orang yang mengikuti jejak langkah saudari dalam berhijab dari wanita-wanita lain yang sebelumnya meremehkan urusan hijab. Rosulullah Shallallaahu ‘alai Wa Sallam bersabda: “Barang siapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan maka baginya pahala orang yang mengamalkannya.” (HR. Muslim). “Barang siapa yang menyeru kepada petunjuk, pahalanya seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun juga.” (HR. Muslim).
7. Mengunakan hijab adalah jalan menuju keselamatan dari berbagai kejelekan yang semestinya menimpa saudari, seperti tabarruj, gaul dan selamatnya orang lain karena saudari.
8. Dengan menggunakan hijab berarti saudari telah berda’wah kepada Dienul Islam, karena dengan melihat hijab muslimah manusia tergugah untuk mengetahui lebih mendalam tentang Dienul Islam, Maka saudari adalah seorang juru da’wah.
9. Menggunakan hijab muslimah adalah sebab bersihnya hati. Allah Azza Wa Jalla berfirman: “Hal itu lebih bersih bagi hati kalian dan hati mereka.”
10. Dengan memakai hijab muslimah saudari akan mendapatkan sabar di atas perintah Allah Azza Wa Jalla karena kesulitan-kesulitan dan kendala yang dihadapi. Allah Azza Wa Jalla berfirman: “Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (Qs. An Nazi’at 40-41)
11.


SIFAT HIJAB SYAR’I BAGI WANITA MUSLIMAH

Apakah Saudari tahu sifat hijab syar’i (pakaian muslimah yang disyari’atkan) ?
1. Menutup seluruh tubuh.
2. Tidak berbentuk pakaian hias atau mengandung perhiasan seperti gambar-gambar, accessories dan tulisan-tulisan
3. Tebal tidak tembus pandang, sehingga tidak menampakkan apa yang ada di balik pakaian tersebut.
4. Lebar dan longgar tidak ketat, sehingga tidak menampakkan bagian-bagian anggota tubuh.
5. Tidak menyerupai pakaian pria dan pakaian wanita-wanita kafir.
6. Tidak berparfum dan berwangi-wangian apabila hendak melalui kaum pria.





Blog EntryPARASIT AQIDAHJul 14, '07 6:20 PM
for everyone

Syeikh Abdul Aziz Bin Baz

        Rahimahullah.

 

PARASIT AQIDAH

القوادح  في العقيدة ووسائل السلامة منها

Tahqiq:

Syeikh Khalid bin Abdurrohman Asy Syaayi’

Alih Bahasa:

ِAbul Qossam

(Mahasiswa program pasca sarjana Omdurman Islamic University of Sudan)

 

KATA PENGANTAR

 

    الحمد لله معز التوحيد بنصره، ومذل الشرك بقهره ومصرف الأحوال بأمره، الذي أظهر دينه على الدين كله، أحمده على إعزازه لأوليائه وخفضه لأعدائه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، شهادة من طهر بالإخلاص قلبه، وأرضى بالمعاداة فيه والموالاة ربه.

    وأشهد أن محمد عبده ورسوله، رافع الشك، وخافض الشرك، ومانع الكذب والإفك، اللهم صلّّ على محمد النبي الكريم، والرسول الصادق الأمين، وعلى آله وصحبه وسلّم تسليماً.أما بعد:

   

    Kesehatan aqidah adalah masalah terpenting yang harus mendapatkan perhatian dari seorang mukallaf, dia adalah perkara terpenting dari segala sesuatu, bahkan lebih penting dari kesahatan, makanan, minuman dan oksigen yang dihirupnya. Karena kehilangan salah satu dari unsur-unsur itu atau bahkan seluruhnya dari seseorang dampak negatif maksimal yang akan dialaminya adalah ia akan meninggalkan dunia ini, akan tetapi jikalau seseorang kehilanggan aqidah yang benar, maka yang rusak bukan hanya sekedar kehidupan dunianya saja akan tetapi dapat berdampak dalam kehidupan akhiratnya yang jauh lebih penting dari kehidupan dunia, satu kerugian yang tidak akan pernah beruntung setelahnya.  

    Karena urgennya masalah ini, maka bagi siapa saja yang menginginkan kebahagiaan dirinya dan keselamatan di dunia dan akhirat handaklah ia bersungguh-sungguh dalam mendapatkan dan merealisasikan aqidah yang benar, dan hendaklah ia sangat berwaspada dari segala sesuatu yang dapat merusak aqidahnya atau menguranginya atau melemahkannya.

    Akhi Muslim, Anda jangan mengatakan bahwa perkara ini telah diketahui oleh semua orang, semua manusia mengetahuinya. Ilmu dan pengetahuan, tentu merupakan masalah yang penting dan tidak ada keraguan di dalam masalah ini, akan tetapi hal itu harus berada di atas ilmu dan kejelasan sehingga kita berjalan di atas rel yang telah dilalui oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallaahu anhum.

    Senada dengan perkara tersebut, kitapun harus mengetahui dan berwaspada dari hal-hal yang dapat merusak aqidah, baik yang dapat membatalkannya atau menguranginya baik itu kemusyrikan, dan kebid’ahan maupun dosa-dosa besar lainnya.

    Perhatikan dan renungkanlah do’a Nabi Ibrohim ‘alaihis salam sebagaimana telah disebutkan di dalam Al Qur’an:

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأَصْنَامَ(35)رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ

“Dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari peribadatan kepada berhala, Wahai Robbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak dari kalangan manusia.”[1]

    Inilah do’a dari kekasih Allah Azza wa Jalla, bapak para nabi, imam para hunafa’, ia mengucapkannya karena rasa takutnya dari kemusyrikan, disamping karena kekhawatirannya atas diri dan keturunannya yang di antara merekapun adalah para pembesar dari kalangan orang-orang yang hanif, dan orang-orang pilihan Allah, hal itu disebabkan karena kebanyakan manusia banyak yang terperosok ke dalamnya.

    Lalu bagaimana pandangan anda dengan selain Nabi Ibrahim ‘alaihis salam?!!

    Ibrahim At Taemi rahimahullah berkata: “Siapakah yang lebih merasa aman daripada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.”

    Ini menuntut setiap hati yang hidup untuk senantiasa khawatir dari kemusyrikan, tidak seperti apa yang dikatakan oleh orang-orang bodoh: kemusyrikan tidak terjadi pada umat ini, sehingga mereka merasa aman dari kemusyrikan dan merekapun terperosok ke dalamnya.[2]

    Atau sebagaimana dianggap oleh sebagian besar manusia saat ini, bahwa sekarang zaman modern dan kemajuan teknologi serta pengetahuan, maka tidak mungkin ada kemusyrikan di dalamnya, kemudian merekapun beranggapan bahwa jikalau ada orang yang terjerumus ke dalam kemusyrikan, hal itu bukanlah merupakan masalah yang serius, selama ia berpandangan modern dan maju. Maka mereka itu adalah orang-orang yang lalai atau pura-pura lalai sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka mengetahui sesuatu yang nampak dari kehidupan dunia, sedangkan dari (kehidupan) akhirat mereka lalai.”[3]

Mereka lalai bahwa keadaan dan akibatnya yang akan terjadi adalah sebagaimana sunnatullah bagi orang-orang sebelum mereka, Allah Azza wa Jalla berfirman:

فَرِحُوا بِمَا عِنْدَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

“Mereka bergembira dengan ilmu yang mereka miliki dan mereka dikepung oleh adzab Allah yang selalu diperolok-olokan itu.[4]

    Dan dampaknya adalah, sebagaian kelompok manusia saat ini telah beribadah kepada tuhan-tuhan lain yang telah diharamkan oleh Robb mereka, kemudian mereka menghalalkannya dan berpandangan positif kepadanya, bahkan mereka menuhankan hawa nafsu mereka sendiri:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلا تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya, dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ?.”[5]   

    Perhatikanlah, bagaimana Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dengan rasa kasih sayangnya kepada umatnya, beliau mengingatkan mereka dari syirik ashghar, dan terlebih dari syirik akbar, beliau bersabda:

أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ

“Yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.”[6]

    Dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallampun telah menutup seluruh pintu-pintu bid’ah, sehingga beliau bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang mengada-adakan dalam urusan kami yang bukan dari ajarannya maka amalannya tertolak.”[7]

Maksudnya; tertolak dari pelakunya.

    Allah Azza wa Jalla telah memberikan taufiq kepada para ulama sunnah sepanjang lintasan sejarah untuk menampakkan aqidah yang benar sehingga tetap segar sebagaimana telah dibawa oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, dan mereka telah menerangkan hal-hal yang dapat membatalkannya dan sebab-sebab yang dapat menguranginya, sehingga sebagaian besar dari mereka telah menulis di dalam karyanya sebuah pembahasan yang dinamakan dengan Bab Hukum Murtad, dan bahkan sebagian mereka menulis satu karya tersendiri khusus dalam masalah ini sebagaimana telah dilakukan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

    Ini semua menunjukkan betapa pentingnya permasalahan ini, karena betapa banyak orang yang menisbatkan dirinya kepada Islam namun mereka telah keluar darinya disebabkan karena pembatal-pembatal tersebut.

    Dalam masalah ini Ibnu Taemiyyah rahimahullah berkata: “Kalau seandainya di zaman Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam ada sekelompok orang yang menisbahkan dirinya ke dalam Islam, kemudian mereka keluar darinya padahal mereka adalah orang-orang yang rajin di dalam beribadah, maka dapat diketahui dengan jelas, bahwa orang yang menisbahkan dirinya ke dalam Islam dan sunnah terkadang ia dapat keluar dari Islam karena beberapa sebab…”[8]

    Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata -setelah menyebutkan beberapa pembatal-pembatal keislaman-: “Dan semuanya sangat berbahaya, dan yang paling sering terjadi, oleh sebab itu seyogyanya bagi seorang muslim untuk mewaspadainya dan merasa khawatir atas dirinya.”[9]

    Karena pentingnya masalah inilah, dengan taufiq dan seidzin Allah Azza wa Jalla, Dia telah menjadikan saya sebagai sebab tersebarnya risalah yang sangat berharga ini yang telah disampaikan oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah yang telah lama dikenal berda’wah dan berjuang di atas manhaj yang jelas, sehingga hal itu dapat disaksikan oleh orang dekat dan jauh, tua dan muda, dan cukuplah Allah sebagai saksi.

    Risalah singkat ini memaparkan tentang permasalahan-permasalah yang wajib diketahui oleh seorang muslim agar terhindar dari benalu-benalu aqidah, dan sebab-sebab yang dapat mengurangi atau melemahkannya.

    Semoga Allah Azza wa Jalla membalas kebaikan Syekh Abdul Aziz bin Baz dengan pahala yang baik, memberkahi usianya dengan penuh kebaikan, dan saya ucapkan terima kasih kepada setiap orang yang berpartisipasi dalam penulisan risalah ini, semoga Allah Azza wa Jalla membalas kebaikan mereka semua, dan semoga Dia memberikan taufiq-Nya kepada kita sekalian untuk memahami agama ini, dan menjauhkan kita dari segala sebab murka dan adzab-Nya, dan menjadikan amalan dan perkataan kita ikhlas di sisi-Nya. Amin.

    Semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada sebaik-baik makhluk, nabi kita Muhammad, kepada karib kerabatnya, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya.

 

Ditulis oleh:

Orang yang fakir terhadap Rabbnya

Khalid bin Abdurrohman Asy Syaayi’

Semoga Allah mengampuninya, bagi kedua orang tuanya dan bagi kaum muslimin

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PARASIT AQIDAH

 

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين والصلاة والسلام الأتمان الأكملان على عبده وررسوله وخليله وأمينه على وحيه، نبينا وإمامنا وسيدنا محمد بن عبد الله وعلى آله وأصحابه ومن سلك سبيله واهتدى بهداه إلى يوم الدين، أما بعد:

    Tidak diragukan lagi, bahwa kesehatan aqidah adalah merupakan masalah terpenting dan kewajiban terbesar yang harus mendapatkan perhatian seorang muslim, adapun kewajiban-kewajiban yang lain datang setelah itu.

    Oleh sebab itu, judul pembahasan kita pada malam hari ini adalah:

“Parasit-parasit Aqidah Dan Sarana Untuk menghindarinya.”[10]

  Aqidah adalah: Apa-apa yang diyakini oleh manusia dan dianutnya, baik kebajikan ataupun kejahatan, baik kejelekan ataupun kebaikan.

   Aqidah yang kita maksud adalah Aqidah Yang Benar, dan apa yang diwajibkan bagi seorang hamba Allah, karena di dunia ini banyak sekali keyakinan, dan semuanya rusak kecuali aqidah yang bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, yaitu Aqidah Islamiyyah yang jernih dan bersih dari unsur-unsur kemusyrikan dan kebid’ahan serta kemaksiatan, aqidah inilah yang sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, dan itulah Islam.

    Allah Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإِسْلامُ

“Sesungguhnya agama (yang benar) di sisi Allah adalah Islam.[11]

Dan firman-Nya:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan telah Aku sempurnakan ni’mat-Ku atas kalian, dan Aku telah rela Islam sebagai agama kalian.”[12]

    Maka, Islam adalah agama Allah, dan Dia tidak akan menerima selain daripadanya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barang siapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima darinya, dan ia di akhirat termasuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi.”[13]

    Islam adalah agama seluruh para nabi, Agama bapak kita Adam ‘alaihis salam, agama para nabi setelahnya: Nuh, Ibrohim, Musa, Isa, Daud, Sulaiman, Ishaq, Ya’qub, Yusuf dan Agama para nabi dan rosul yang lain ‘alaihimus salam, dan dialah agama nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam yang telah diutus kepada seluruh manusia. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اْلأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلاَّت أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِيْنُهُمْ وَاحِدٌ

“Para nabi itu bersaudara sebapak, ibu mereka berbeda-beda dan agama mereka satu.”[14]

Dan di dalam lafadz yang lain:

أَوْلاَدٌ عَلاَّت

“Anak-anak saudara sebapak”

    Maksudnya adalah: Agama para nabi adalah satu, yaitu Tauhidullah (mentauhidkan Allah) dan beriman bahwa Dia adalah Robb seru sekalian alam, Maha Pencipta dan Maha mengetahui, beriman kepada akhirat dan hari kebangkitan, surga, neraka dan timbangan amal serta hal-hal lain yang termasuk ke dalam urusan akhirat. Adapun syariat-syariat mereka, maka berbeda-beda, dan inilah makna dari “anak sebapak dari ibu yang berbeda-beda” ini adalah merupakan kiasan bagi syari’at yang berbeda-beda. Sebagaimana Allah Azza wa Jalla telah berfirman:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu Kami berikan aturan dan jalan yang terang.[15]

    Saudara sebapak, bapak mereka satu dan ibu mereka berbeda-beda. Demikianlah para nabi, agama mereka satu yaitu Tauhidullah dan memurnikan ibadah kepada-Nya.

    Dan arti “Laa Ilaaha Illallaah.” Adalah: Mengesakan Allah di dalam ibadah, dan beriman kepada Allah Azza wa Jalla, kepada para malaikat-Nya, kepada kitab-kitab suci-Nya, kepada para utusan-Nya, kepada hari akhir, dan kepada qadha dan qodar baik dan buruknya, dan kepada segala sesuatu yang berkaitan dengannya, seperti: beriman kepada hari kebangkitan, surga, neraka, timbangan amal, hari perhitungan, jembatan shirath dan lain-lain.

    Demikianlah agama para nabi, masing-masing dari mereka ‘alaihimus salam membawa misi ini, akan tetapi syariat mereka berbeda-beda seperti anak-anak dari ibu yang berbeda-beda. Maka syari’at yang ada di dalam Taurat berbeda dengan apa yang ada di dalam injil, dan di dalam syari’at-syari’at sebelum kita ada hal-hal yang tidak kita dapatkan di syari’at Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, demikian juga dengan apa yang ada di dalam taurat dan Injil. Allah Azza wa Jalla telah memberikan berbagai kemudahan bagi umat ini, sebagaimana firman-Nya

وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأَغْلالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ

“Dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.”[16]

Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

بُعِثْتُ بِالْحَنَفِيَّةِ السَّمْحَةِ

“Aku telah diutus dengan (agama) yang lurus dan mudah.”[17]

    Allah Azza wa Jalla telah mengutusnya dengan syari’at yang penuh dengan kemudahan yang tidak berbeban, tidak berbelenggu, dan tidak susah untuk diterapkan, sebagaimana Allah Azza wa Jalla telah berfirman:

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.”[18]

    Sebagai contoh, para pengikut syari’at-syari’at terdahulu sebelum syari’at Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, apabila mereka tidak mendapatkan air, mereka tidak bertayammum, akan tetapi mereka mengakhirkan shalat semuanya kemudian mereka menjama’nya sehingga mereka mendapatkan air, barulah mereka berwudhu dan mendirikan shalat. Kemudian Allah Azza wa Jalla mensyari’atkan tayammum pada umat ini, maka barang siapa yang tidak menemukan air atau tidak mampu untuk bersuci dengan air, ia dapat melakukannya dengan bertayammum dengan tanah kemudian ia mendirikan shalat. Dan contoh-contoh yang lain banyak kita temukan sebagai bentuk kemudahan dan keringanan.

    Demikian pula, Setiap nabi diutus hanya kepada kaum tertentu, sedangkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam diutus kepada seluruh manusia, kepada kalangan jin dan manusia, bangsa arab dan ‘ajam, dan beliau dijadikan nabi penutup.

    Orang-orang sebelum kita mereka tidak boleh shalat kecuali di tempat-tempat peribadatan mereka, adapun di dalam syari’at Muhammad, di belahan bumi mana saja jika waktu shalat telah tiba, anda boleh mengerjakannya di mana anda berada, baik di tengah padang pasir ataupun di tengah pedesaan, sebagaimana sabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam:

جُعِلَتْ لِيَ اْلأَرْضُ مَسْجِداً وَطَهُوْراً

Bumi telah dijadikan bagiku sebagai tempat beribadah dan alat untuk bersuci.”[19]

    Maka syari’at yang dibawa oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah syari’at yang luas dan mudah, tidak mengandung beban dan tidak membelenggu, di antara contohnya adalah orang sakit, ia tidak diharuskan untuk shaum, akan tetapi ia diperbolehkan untuk berbuka dan ia mengqodhanya, Orang yang sedang melakukan perjalanan mengqashar shalat, ia boleh berbuka pada bulan ramadhan dan mengqadhanya. Sebagamana firman Allah Azza wa Jalla:

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan barang siapa yang sakit atau ada dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu.”[20]

    Orang yang mendirikan shalat, apabila ia tidak mampu untuk berdiri, ia boleh melakukannya dalam keadaan duduk, apabila ia tidak mampu duduk, ia boleh melakukannya di atas sisi tubuhnya, dan apabila ia tidak mampu, maka shalat dalam keadaan terbaring, sebagaimana hal itu disebutkan dalam hadits yang shahih dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

    Apabila ada seseorang yang tidak mendapatkan makanan yang halal untuk mengganjal rasa laparnya, ia diperbolehkan untuk memakan bangkai dan semisalnya yang dapat menahan laparnya agar ia tidak meninggal.

    Maka aqidah Islamiyyah adalah Tauhidullah dan memurnikan ibadah kepada Allah Azza wa Jalla, beriman kepada-Nya, kepada para utusan-Nya, kitab-kitab suci-Nya, kepada para malaikat-Nya dan kepada hari akhir, baik kepada hari kebangkitan, surga dan neraka, dan perkara-perkara lain yang berkaitan dengan kehidupan akhirat, serta beriman kepada qadha dan qadar baik dan buruknya, bahwa Allah Azza wa Jalla telah menentukan segala sesuatu, mengetahuinya, meliputinya dan semuanya tertulis di sisi-Nya.

    Dan di antara rukun Islam adalah: shalat, zakat, shaum dan haji.

    Dan di antara kewajiban-kewajibannya adalah: Berjihad di jalan Allah, amar ma’ruf dan nahi munkar, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali persaudaraan, jujur di dalam berbicara, menjaga amanah dan lain-lain.

    Maka, Al Islam adalah: Menyerahkan diri kepada Allah, tunduk dan patuh kepada-Nya dengan mentauhidkan-Nya dan memurnikan ibadah kepada-Nya, berpegang teguh dengan mentaati-Nya dan mentaati rosul-Nya ‘alaihis shalatu was salaam. Oleh sebab itulah dinamakan Islam, karena seorang muslim menyerahkan urusannya kepada Allah Azza wa Jalla, mentauhidkan-Nya dan beribadah kepada-Nya semata, patuh terhadap perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, serta tidak melampaui batas yang telah ditetapkan-Nya. Dan inilah Islam.

    Islam memiliki lima rukun: bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, shaum ramadhan dan haji ke Baitullah bagi orang yang mampu.

    Dua kalimat syahadat ma’nanya: mentauhidkan Allah dan memurnikan ibadah kepada-Nya, dan beriman bahwa Muhammad adalah utusan-Nya. Kedua kalimat syahadat ini adalah merupakan pondasi agama ini, oleh sebab itu tidak ada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah semata, dan inilah arti dari “Laa Ilaaha illallaah”, sebagaimana Allah Azza wa Jalla telah berfirman:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ

“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Ilah) yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang bathil.”[21]